Cina dan Anak Tukang Jahit yang Lusuh

Yian anak Cina totok, berteman dengan Jamin. Mereka teman yang akrab,solid,dan selalu bersama. Setiap hari Yian dan Jamin berangkat,pulang sekolah bersama,bermain bersama dan selalu bersama. Mereka berdua bagai dua insan yang tak bisa di pisahkan. Sebenarnya rumah mereka tidak berjauhan, namun kehidupan mereka jauh berbeda.

Bapak Yian bernama Babah lim, dia Seorang bandar beras yang kaya raya. Sedangkan Bapak Jamin adalah seorang tukang jahit di Pasar Sentir,yang penghasilannya tidak seberapa. Tidak heran, Babah Lim sering melarang Yian berteman dengan Jamin anak tukang jahit yang lusuh. Suatu hari Yian di ajak jamin ke tempat yang mungkin Yian belum pernah menjumpainya. Di padang rumput yang menghijau di atas bukit. Di sanalah tempat terlihat padi-padi menghijau di tengah sawah, gunung-gunung yang tinggi menjulang, sungai yang masih bersih berkelok bagaikan ular yang sedang bergerak.Di bawah pepohonan rindang yang masih berdiri kokoh, di sanalah Yian dan Jamin berpijak.

“wow…!!! indah sekali Jamin, aku belum pernah melihat yang seindah ini.Sungguh nampah sejuk di mata”.Ujar Yian seraya berdiri menghadap alam. “Benarkah?!, aku hampir setiap hari ke sini, biasanya aku bersama ke dua teman ku Santo dan Tejo. Tidak lama lagi, Santo dan Tejo akan terlihat membawa domba, dan beberapa itik mereka”. Jawab Jamin. Benar filling Jamin. Belum berapa lama Santo dan Tejo muncul dari sela-sela barisan ilalang yang tumbuh tinggi di bukit.

“Woy..Min, kau sudah datang.” Teriak Tejo seraya membawa Bejo kambingnya. Dan di ikuti dengan Santo di belakang dengaan itik-itiknya. Mereka mendekati Yian dan Jamin. “Wah, Jamin..Lagi berduaan sama anaknya Babah Lim”. Kata Santo menggoda Jamin. “Ah, kau ini To..!!, tidak begitu, aku hanya mengajak dia melihat-lihat ke indahan desa kita ini.” Jawab Jamin dengan rona wajah sedikit merah padam. “Sudah-sudah, kalian ini!!,” penggal Tejo “eh Min, kenalkan aku lah, pada si manis ini!!”.Sambung Tejo membisik ke Jamin. “Iyo,iyo.. Yi, ini yang tadi aku ceritakan. Yang ini Santo dan yang ini Tejo”. Kata Jamin seraya menunjuk ke arah Santo dan Tejo.

Yian mengulurkan tangannya.”Yian”. Santo dan Tejo berebut mencoba meraih tangan Yian lebih dahulu.”Aku dulu lha Jo”. “O,tidak bisa, aku dulu!”. “Aku..”. “Aku dulu..”. “Aku..”. “Stoppp!!!, jangan berebut gitu dong, si Yian jadi bingung”. Kata Jamin menegaskan. “Iyo,iyo..”. Jawab Santo dan Tejo bersamaan.

Beberapa saat semua terdiam sepi, lalu.. “O,iya Min. Aku baru ingat. Mama` mu sakit di rumah, kamu di suruh cepat balik oleh Mama` mu.” Kata Santo angkat bicara. “Mama` sakit?!!”. Ucap Jamin dengan rasa khawatir yang tidak bisa di bohongi di rona wajahnya. “Iya, cepat balik sana!!”.Kata Santo. Jamin terdian sejenak. “Min, aku ikut ya?!”. Pinta Yian. Jamin menatap Yian “Yi, bukannya aku tidak mau, tapi kamu tau sendiri. Babah Lim tidak suka melihat mu dekat-dekat dengan ku. Lagi pula rumah ku juga reot dan..”. “Jamin, kamu gak boleh gitu. Aku ini teman mu, dan sudah sewajarnya aku menjenguk mama`mu, kamu gak perlu berkata begitu,Min.” Sahut Yian menjelaskan.

Jamin menundukan kepala dan terdiam sejenak. “Kamu yakin, Yi ingin ke rumah ku”. Tanya jamin menegas kan. “Tentu, Min.” Jawab Yian singkat.

Ya Sudah, cepat sana!!! Mama` mu kasian min.” Kata Tejo

Jamin mengajak Yian ke rumah Jamin yang berada di gang jalan setapak yang sempit. Ketika sampai di depan sebuah rumah reot yang kecil dan sangat sederhana, langkah Jamin terhenti. “Yi, ini rumah ku, ayo masuk!.” Ucap Jamin seraya melangkah masuk ke dalam rumah itu. Yian yang terlihat terheran-heren melihat rumah Jamin teman dekatnya, yang keadaan rumah nya seperti ini. Dengan pelan, Yian mulai melangkah masuk mengikuti Jamin. Alangkah herannya Yian melihat rumah Jamin yang apa adanya. Lantai yang masih tanah,becek pula karena hujan semalam, dinding yang terbuat dari bilik bambu yang sudah keropos,kain-kain yang menggantung di mana-mana, Sarang laba-laba yang sungguh amat banyak di setiap sudut, dan hanya satu lukisan bunga karya jamin sewaktu di sekolah yang menggantung di bilik bambu, dan sungguh benar-benar tidak layak untuk di sebut rumah.

Terlihat sesosok puan yang mulai tua, sedang berkalang di atas ranjang tanpa kapuk yang kusam dan mulai reot. Puan itu tertutupi oleh se potong kain yang lusuh semacam jarit. “Assalamu`alaikum ma`”. Salam Jamin seraya mencium tangan mama`nya yang keriput kering. “Waalaikumsalam, Min. Kamu sudah pulang nak?”. Wajah puan itu sangat pucat, dengan dua koyo yang menempel di keningnya, dan beberapa rambutnya yang mulai memutih, membuat Yian tersentuh dan termenung. Mama` Jamin melihat adanya Yian di dekatnya. “Min, siapa anak gadis ini?”. Tanya Mama` Jamin. “Ini Yian Ma`, anak Babah Lim bandar beras”. Jawab Jamin seraya meng elus-elus rambut puan itu yang mulai memutih yang tertutup oleh penutup kepala yang sudah sangat lusuh.

Yian pun meraih tangan puan itu, lalu menciumnya sesudahnya tersenyum ramah menatapnya. “Nak, apakah Babah Lim membolehkan mu datang ke mari?, bukannya Babah Lim sangat tidak suka jika anak gadisnya keluar rumah dengan anak desa sini?”. Tanya Mama` Jamin dengan kening yang sedikit mengerut. “Tidak kok Bu, saya hanya ingin main ke rumah Jamin dan menjenguk ibu. Bagaimana keadaan Ibu saat ini?”. Kata Yian dengan suara yang sangat lembut. “Alhamdulillah, sudah agak mendingan”. Jawabnya singkat. Tiba-tiba… Dua pria berbadan kekar muncul mendobrak pintu rumah Jamin yang rapuh. Ternyata dua orang itu membawa Babah Lim di belakangnya. “Yian!!!, sedang apa kau di sini?!”. Pekik Babah Lim. Yian hanya terdiam seribu bahasa. “Pulang kamu!!!”. Kata Babah Lim dengan suara yang menggelegar keras membahana. Lalu ke dua pria tadi menyeret Yian. Namun Babah Lim masih ada di hadapan Jamin. Babah lim berkata. “Heh, anak lusuh. Jangan kau dekat-dekat dengan anak ku Yian. Kamu tidak pantas untuk berteman dengan Yian!, mengerti kau!!”. Bentak Babah Lim, lalu Babah Lim mendorong Jamin hingga terjatuh di lantai tanah yang becek. “Jamin!!!…”. Yian berteriak namun Yian tetep di seret pulang . Jamin hanya bisa bisa menagis dan merintih. “Ya Alloh, salah apakah hambamu ini?”. Mama` Jamin pun meneteskan air mata,melihat malang nasib anaknya.

Hari telah berganti, pagi pun datang menyambut dunia. Sejak menjelang subuh, Jamin sudah bangun untuk membantu Mama`nya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Serta membantu mengemasi kerupuk untuk di jual di warung-warung. Walaupun Jamin masih kelas 3 SD, namun dirinya sangat mandiri. Bahkan bisa membantu orang tua. Di saat teman-teman se umurannya masih tertidur pulas di ranjang yang empuk, Jamin sudah membantu orang tuanya. Jamin juga anak yang termasuk rajin dalam ibadah. Tidak pernah lupa sebelum dirinya tertidur, dia membacakan ayat-ayat suci Al-Qur`an untuk Mama`nya yang tengah sakit-sakitan. Setiap harinya dia pun pergi sholat berjamaah di mushola yang jaraknya hanya 50 meter dari tempat tinggalnya. Dia adalah anak yang rajin dalam belajar. Memang Jamin harus membantu orang tuanya, namun Jamin tidak pernah melupakan kewajibannya itu.

Tidak jarang Jamin mendapat peringkat 1 di kelasnya. Jamin adalah anak yang termasuk prihatin. Walaupun Jamin tidak seberuntung teman-temannya dalam keadaan ekonomi, namun Jamin selalu mensyukuri apa yang ada. Sangatlah jarang anak se usia Jamin melalukan hal seperti yang rutin Jamin lakukan. Pagi itu Jamin pun berangkat ke sekolah tanpa hadirnya Yian yang selalu bersamanya. Setibanya di sekolah Jamin kaget, karena Yian belum berada di dalam kelas, hingga Ellen salah satu teman dekat Yian mendatangi Jamin. “Jamin, ini aku mendapat titipan surat dari Yian”. Jamin pun menerima surat itu. “Terimakasih,llen”. Di bukanya Surat dari Yian itu.

Untuk Jamin
Jamin, aku hanya ingin pamit pada mu. Aku harus pergi jauh meninggalkan persahabatan kita. Aku harus tinggal di rumah nenekku di Jepang. Aku akan bersekolah di sana. Maafkan aku, karena aku tidak sempat berpamitan langsung dengan mu. Namun setidaknya,surat ku ini bisa mewakili aku. Kamu jangan sedih, aku janji di imlek 7 tahun ke depan nanti aku akan pulang ke Indonesia. Kita akan main di bukit lagi,bersama Santo dan Tejo serta domba dan juga itik-itik mereka.
Sudah dulu ya surat dari ku, maaf jika tulisan ku masih acak-acakan. Aku akan merindukan mu. Kamu adalah sahabat terbaikku.
Yian Tiannellha

Jamin terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Tetesan air mata terjatuh. Rasa sedih membuat Jamin merasa ke hilangan ketegarannya. Sungguh Jamin tak pernah mengira semua ini akan terjadi.

7 tahun kemudian…
Hari demi hari terus berganti, musim demi musim berlalu, 7 tahun telah berlalu. Jamin telah tumbuh menjadi remaja yang taat. Jamin kini duduk di bangku SMA.Kini Jamin menjadi pemimpin di dalam keluarga, karena Bapaknya telah meninggal dunia 3 tahun yang lalu karena penyakit komplikasi dan TBC yang sangat parah. Jamin tetap bersemangat hidup demi keluarganya. Di telinga Jamin masih terngiang, kata-kata bapak`a sebagai pesan-pesan terakhirnya. “Nak, jika Bapak pergi, jadilah Jalu (anak laki-laki) yang kuat, yang bisa melindungi mama’. Yakinlah, walau pun Jamin tidak melihat Bapak lagi, tapi Bapak selalu ada di hati Jamin. Jamin adalah anak Bapak satu-satunya, jadilah Laki-laki yang teguh,jangan kecewakan bapak yang telah memberi mu nama `Jamin Tegar Satria’, jamin harus menjadi laki-laki yang selalu bisa melindungi keluarga bagai kesatria. Jaga keluarga dan diri mu ya nak! Bapak akan merindukan mu”.

Begitu lah pesan Bapak jamin yang kini telah tiada. Jamin selalu mengenang bapak nya lewat mesin jahit yang kini telah rusak, namun tetap bersih. Karena jamin selalu membersihkannya setiap hari. Bagi Jamin, mesin Jahit itu pun berperan dan ber jasa dalam kehidupannya. Bagi Jamin, mesin Jahit itu adalah mesin pencetak uang di keluarganya, karena mesin jahit itu, Jamin bisa bersekolah, melangsungkan kehidupannya, dalam keadaan ekonomi yang sulit, bahkan harga-harga barang selalu saja melambung tinggi, berkat mesin jahit itu juga, masih ada tabungan yang bisa di gunakan untuk usaha mama’ jamin dalam membuat krupuk dan gorengan, jamin tidak mengeluarkan uang banyak yang merepotkan mama’nya. Karena dari SMP jamin telah mendapatkan beasiswa dari sekolah hasil ke gigihannya dalam belajar.

Siang itu Jamin sedang berada di salah satu warung yang Jamin titipi krupuk buatan Mama`nya, yang berada tepat di rumah Yian yang dulu.Yang selama 7 tahun ini di huni oleh saudaranya. Berhentilah sebuah mobil mewh di depan rumah Yian. Tidak berapa lama, turunlah dua anak gadis jelita dan berwajah tionghoa. Jamin terus memendangi kedua anak gadis itu. Gadis yang tinggi memekai baju merah,rok panjang,yang berhiaskan bunga-bunga warna keemasan. Dan memiliki rambut lurus, se pundak yang tergerai indah. Di dalam hati Jamin mulai bertanya-tanya. “Apa iya itu Yian?”. Tak lama kemudian Gadis tinggi itu tersenyum memandang Jamin. Jamin yang sedang memperhatikan gadis itu mendadak gerogi dan tersipu malu. Gadis itu berteriak seraya berjalan mendekati Jamin.

“Jamin!!..”. Ketika sampainya gadis itu di depan Jamin, Jamin bertanya. “Maaf, kamu siapa ya?”. Gadis itu pun menjawab. “Aku Yian,Min. Aku kembali”. Mata Jamin terbelalak ketika melihat Yian, sahabat kecilnya yang kini telah tumbuh besar. “Yian!!, kamu sangat berbeda dengan yang dulu?”. Yian tersenyum kecil. “Oya???, tapi sekarang tambah cantik kan?!,hehe.”Katanya seraya tertawa kecil. “Ah,kamu bisa saja”. Jawab Jamin enteng. Sejenak suasana sepi, Yian dan Jamin saling membisu. Beberapa saat kemudian Yian pun angkat bicara. “Ekhem..Min, kamu mau tidak temui aku besok pagi di depan rumah?,aku ingin pergi ke bukit,melihat pemandangan di sana?”. Jamin menjawab. “Insyaalloh bisa, tapi…”. “Sudah, gak usah pake tapi-tapian, Janji ya, besok pagi aku tunggu kamu, Ok???!!”. Serobot Yian seraya mengacungkan jempolnya. “Ok!!!”. Jawab Jamin mantap.

Esokpun tiba, Jamin membantu Mama`nya menjajakan krupuk dan kue hasil buatan mama`nya ke warung-warung,hingga sampailah di warung depan rumah Yian. Tak lama kemudian. “Jamin!!!”. Teriak Yian memanggil Jamin dari depan pintu gerbang rumahnya. Yian pun bergeges mendekati Jamin. “Jadi kita ke bukit hari ini?”. Tanya Yian menegaskan. “Tentu, ayo ikuti aku!”. Jawab Jamin seraya melangkahkan kakinya. Sesampainya di bukit Yian sangat heran, keadaannya sangat jauh berbeda, kini sudah tak terlihat lagi sawah yang menghijau, tak ada lagi sungai yang jernih berkelok, tak terlihat lagi ilalang-ilalang yang tumbuh meliar. Semua bagai sudah hilang begitu saja.

“Min, kenapa menjadi seperti ini?”. Tanya Yian dengan nada yang lirih. Jamin menghela nafas.”Awalnya kemarin aku akan memberi tahu kan mu, tapi belum selesai aku bicara kamu sudah main srobot saja?!”. Yian terdiam sejenak,lalu angkat bicara. “Tapi,tapi,tapi kenapa bisa begini?”. Tanya Yian dengan rona muka yang nampak kecewa. “Semua ini berawal dari berdirinya pabrik di sana, dan perumahan di sebelah sana. Semua pemandangan alam telah di gusur habis,tak bersisa sama sekali.Limbah yang meracuni sungai, hingga membuat banyak dampak buruk kepada warga sekitar sini, perumahan yang padat, membuat aliran sungai tidak bisa bergerak,hutan pun semua sudah di babat habis hingga gundul, jika turun hujan banjir melanda karena tidak ada resapan air. Sungguh alam kini tak bersahabat lagi, semua musnah karena ulah tangan manusia”. Jelas Jamin panjang lebar. “Sungguh aku tidak menyangka jika akhirnya seperti ini”. Ungkap Yian.

Tiba-tiba HP Yian berdering, ternyata Babah Lim yang menghubunginya. Usainya pembicaraan selesai dan HP di tutup, Yian menatap Jamin dan berkata. “Min, maukah kau menemaniku ke kenteng sekarang?”. Jamin melotot. “Apa Yi?,kenteng?, aku tidak akan ikut beribadah dengan mu”. Yian mengerutkan keningnya. “Mengapa?”. “Aku berbeda dengan mu, aku seorang muslim, sedangkan kamu tionghoa”.Kata Jamin menjelaskan. Yian terdiam sepi, mukanya nampak begitu muram, Jamin angkat bicara. “Baiklah,baik. Aku akan menemani mu, namun aku akan menunggu mu di masjid depan kenteng”. Kata Jamin akhirnya meng Iya kan. “Baiklah.” Kata Yian.

Sesampainya di kenteng, Yian memasuki kenteng dan Jamin memesuki masjid di depan kenteng itu. Jamin sholat dhuha. Ke dua insan ini saling menjalani ibadahnya masing-masing. Tak lama kemudian, mereka berdua selesai menjalankan ibadah mereka. Yian pun mengajak jamin untuk membawanya berjalan-jalan ke sawah yang masih bertahan di desa itu.
Tiba-tiba, Yian dan Jamin merasakan hal yang aneh muncul di diri mereka. Seperti sebuah getaran yang dahsyat, hingga mereka tak berdaya. Getaran itu adalah getaran CINTA. Rasa itu datang bagai angin yang berhembus, benar-benar datang begitu saja hingga mereka berdua tak menyangka hadirnya rasa itu. Mereka berdua menjadi salah tingkah. Peluh pun menetes. Tak disangka, tak terduga, sahabat, jadi cinta.

Yian yang memberanikan diri untuk mengatakan perasaan yang telah dia rasakan saat itu. Wajah Jamin memerah, tanpa Jamin sadari, Jamin tersenyum. Namun beberapa saat kemudian, Yian dan Jamin sama-sama berfikir. “Tidak, ini pasti mimpi. Yian, sadarkanlah diri mu. Kamu berbeda dengan Jamin. Jamin seorang Muslim yang taat, sedangkan engkau se orang tionghoa yang kuat!”. Pikir Yian. Tak berbeda dengan Jamin, jamin pun berfikir.” Ya ampun Jamin, astaghfiruwlloh, apa yang kau fikirkan Jamin, kau memiliki Alloh.SWT sebagai Tuhan mu, sedangkan Yian memiliki Tuhannya sendiri. Jamin, kau dan Yian berbeda, ingat itu!!”.

Namun CINTA sudah berkata, Tahi ayampun bisa terasa coklat yang lezat. Yian dan Jamin menjalin sebuah hubungan khusus. Namun Jamin sudah tahu, pasti Babah Lim tidak akan setuju jika Yian putrinya menjalin sebuah hubungan yang istimewa dengan seorang anak tukang jahit dan pembuat kue-kue kecil, Sungguh kehidupan yang sangat jauh berbeda. Bagai langit dan bumi.

2 bulan kemudian…
Hari Senin pun datang. Yian dan Jamin bersekolah di SMA yang sama. Di sana Yian dan Jamin sudah tidak asing lagi. Seluruh penghuni sekolah tersebut sudah mengenal Yian dan Jamin. Karena Jamin adalah mantan ketua OSIS. Sedangkan Yian mudah beradaptasi. Bisa di bilang Yian adalah anak perempuan teristimewa. Teman-teman Yian pun banyak, karena Yian pandai bergaul. Yian dan Jamin pun sudah terkenal menjadi sepasang kekesih di sekolahan mereka. Tak lama, Babah Lim mengetahui hubungan Yian dan Jamin. Babah Lim yang telah mengetahui, seolah terbakar kobaran api emosi. Tak tunggu lama, Babah Lim mendatangi Jamin dan Yian di sekolah. Saat jam istirahat berlangsung Babah Lim di dampingi oleh para lelaki berbadan kekar di belakangnya, masuk ke dalam area sekolah. “Mana Jamin?!”. Bentaknya ke pada salah satu siswa di sekolah yang sedang berjalan di dekat Babah Lim. “Di, di, di.. tadi saya liat sedang di kantin”. Jawabnya tersendat-sendat ketakutan.

Babah Lim langsung datang ke arah kantin sekolah. Terlihat di bola mata Babah Lim, Jamin sedang mengobrol dengan asyiknya bersama Yian. Tak perlu basa-basi, Babah Lim langsung meminta ke dua lelaki berbadan kekar di belakangnya menyeret Jamin ke hadapannya. Di seret`a Jamin dari samping Yian.Yian yang melihatnya merasa tidak terima, Jamin di perlakukan seperti itu. “Apaapaan kalian ini?!, lepaskan Jamin!!!”. Bentak Yian dengan nada yang seolah membuat tumbuhan ingin mati ketakutan.

Namun ke dua lelaki kekar itu tak memperdulikan Yian, dan membawanya ke hadapan babah Lim, Yian pun berlari mengikutinya.Tiba-tiba Yian yang melihat Babah Lim, mendadak mematung dan diam seribu bahasa. Jamin yang telah di seret ke hadapan Babah Lim, merasa ketakutan. “Jamin!!!…, pekik Babah Lim. Saya sudah bilang sejak dulu, jangan dekati Yian!, kamu sebenarnya ngerti tidak?!”. Sambung Babah Lim dengan nada yang keras di muka Jamin. Namun Jamin terdian tak berani menatap Babah Lim. “Kurang ajar kamu!! Di tanya diam saja, dasar anak tukang jahit, miskin, tak punya apa-apa,harga diripun tak punya, bagai sampah yang harus di basmi dari dunia ini!!!”.

Jamin yang mendengar perkataan babah Lim, langsung teringat oleh pesan terakhir yang di sampaikan bapaknya. Jamin begitu membara, emosi seakan datang dan sadarkan Jamin. Jamin menggepalkan tangannya, mengerutkan keningnya, otot-otot di leher dan wajahnya seakan timbul dari kulit Jamin. Jamin pun membara, berkobar bagai sup yang di rebus di atas bara api dari kompor. Jamin melepas kan tangannya dari belanggu ke dua laki-laki kekar tadi. Jamin menatap Babah Lim dengan sangat tajam, bagaikan elang yang ingin menerkam mangsanya. Babah Lim mulai menciut, matanya sayu, jantungnya berdegup kencang, rasanya jantung nya ingin copot.

Jamin berkata “Kamu bilang saya apa?!!, kamu boleh hina saya, tapi jangan bawa-bawa Bapak saya!, saya sadar kok kalo saya itu anak orang miskin, anak tukang jahit dan pembuat krupuk, gorengan yang gax terpandang seperti anda!!, anda adalah Babah Lim bandar beras, orang paling kaya se kampung.. yang punya segalanya.. Saya sadar, saya memang tidak pantas bisa bersama Yian anak anda, tapi kita berdua saling mencintai. Walaupun kita sadari, terlalu banyak dan besar perbedaan kita berdua. Saya tau, apa yang anda inginkan dari saya, yaitu, Anda ingin kan saya untuk menjauhi Yian putri andakan?!, tapi maaf tidak bisa, karena cinta yang mempertahankan segalanya. Saya akan buktikan, bahwa saya akan menjadi laki-laki yang paling tepat untuk Yian”. Terang Jamin dengan suara yang sangat lantang, hingga Babah Lim dan dua lelaki kekar tadi mematung dan diam seribu bahasa, terpaku dan tak percaya, bahwa akan begini akhirnya.
Jamin menggandeng Yian dan berlalu..

3 tahun kemudian…
Kini Yian dan Jamin telah tumbuh dewasa. Telah menjalani kehidupan lingkungan kuliahan. Hingga ber gelar Dr. Jamin Tegar Satria S.E,dan Drs. Yian Tiannellha S.H
Hingga sekarang, Yian dan Jamin masih menjalin hubungan istimewa yang tak pernah terduga. Kini Jamin menjadi seseorang yang sangat beruntung. Hidupnya sangat berbeda dengan yang dulu. Berkat dari kerja kerasnya dalam belajar, Jamin mendapat beasiswa GRATIS kuliah. Dan kini menjadi orang yang bisa membahagiakan orang tuanya, dan telah menggapai cita-citanya. Namun 1 yang ingin Jamin wujudkan, yaitu berbagi kehidupan bersama dengan Yian.
Jamin ingin melamar Yian menjadi teman dalam kehidupannya. Dan membuktikan bahwa dirinyalah orang yang paling tepat untuk Yian.

Jamin melamar Yian dengan seluruh persiapan yang matang. Akhirnya Babah Lim menerima lamaran Jamin namun dengan tersisa 1 pertanyaan. “Bagaimana kalian bisa menikah?, sedangkan kalian berbeda keyakinan?”. Namun Jamin dan Yian sudah mempersiapkan Jawaban dari pertanyaan itu. Yian memutus kan untuk menjadi mualaf. Semua keluarga Yian telah setuju, bagi mereka, yang bisa menentukan kebahagiaan Yian adalah Yian sendiri. Pernikahan Jamin dan Yian akan berlangsung 4 bulan lagi.

4 bulan kemudian..
Namun memang kodrat tak menentukan mereka bersatu, Dalam perjalanan Yian dan Jamin menuju tempat ijabkobul pernikahan di suatu masjid, mereka mengalami kecelakaan maut yang merengkut nyawa Yian dan Jamin. Sungguh bagaikan cerita yang tak berujung indah. Kini, Yian dan Jamin hanyalah kenangan yang tak pernah akan kembali mengukir kisah lagi di dunia ini.

SELESAI

By: Ujianti Dwi Kinasih

No related posts.

Leave a Reply