Temanku yang Istimewa

Teman Ku Yang Istimewa

Aku memiliki seorang teman yang berbeda dari yang lain. Dia itu satu-satunya teman laki-laki ku yang, Kalem, pendiam, alim, dan dia tuh… gak pernah mau membalas kejahatan dengan kejahatan, namun membalasnya dengan kebaikan. Namanya “Priagung Putra Satria”. Sebut saja dengan panggilan Agung.

Teman laki-laki ku ini sungguh istimewa,Namanya agung,terpintas di pikiran, dia itu tinggi besar,namun ini berbeda. Dia berfisik mungil, putih, matanya sipit sekali,sampai-sampai susah membedakan antara dia membuka mata atau terpejam,susah membedakan antara bangun tidur atau sehabis mandi, dia itu termasuk unik, dari keunikannya itu teman-teman yang lain selalu menjailinya. Bahkan teman dekatnya sendiri sering membuat jengkel, namun tidak untuk seorang seperti Agung. Karena Agung termasuk anak yang “nerimo”.

Rendi, Lingga dan Yuda, mereka bertiga adalah teman akrab Agung. Terutama Rendi, Rendi adalah teman sebangku Agung semenjak pembagian kelas. Teman-temannya itu berbeda dengan kepribadian Agung. Jika Agung sedang bersama teman-temannya, terkadang dia terpengaruh oleh omongan-omongan yang kasar. Namun mudah untuk menyadarkan seorang Agung, “Dengan sindiran yang tajam”. Aku sendiri pun sering menyindirnya, Agung paling anti dengan sindiran,aku sendiri yang telah membuktikannya.

Suatu hari,ketika baris Agung termasuk di barisan belakang, sedangkan peraturan menegaskan bahwa yang berbadan mungil di barisan paling depan. Aku dan teman-teman perempuan ku pun bersekutu untuk menyindir Agung. “Yang kecil, di pilih-di pilih, seribu tiga, yo di pilih, silahkan yang kecil yang mau di jual tolong baris di bagian depan, karena sudah mau di obral semua!!!”. Sindir ku dan teman-teman seraya tertawa kecil. Spontan, Agung langsung melihat ke belakang (ke arah aku & teman-teman). “iiih…!!!”. Bisiknya pelan, dari rona wajahnya, dia terlihat sangat geregetan.

Agung pun akhirnya maju ke barisan paling depan. Bukan hanya itu, pernah suatu hari, Agung membuat ku merasa jengkel karena perkataan-perkataan kasarnya dan tulisan-tulisan yang tidak baik di white board, yang di profokotor oleh teman laki-laki di kelas ku. Aku berkata menyindirnya. “Ih!!!, bener-bener ya, anak 7E enggak ada yang alim sama sekali, semuanya berkepribadian tidak baik. Apa ada satu anak laki-laki aja yang sedikit `alim??!!”. Kataku seraya mengerutkan kening, menyindir Agung dengan nada yang sinis.

Agung yang melihat ku, langsung mengambil penghapus di tempat sepidol dan menghapus tulisan dan gambar-gambar yang tidak baik itu. Aku pun tersenyum lega. Akhirnya Agung kembali menjadi Agung yang aku kenal. Hal itu menggambarkan memang seorang Agung paling anti dengan sindiran yang pedas. Dia itu berbeda, sudah aku katakan dari awal. Jika teman laki-laki ku yang lain, di sindir begitu bukannya sadar malah semakin menjadi-jadi. Dia itu tipe anak yang menerima. Jika dia di jaili oleh teman-teman yang lain dia hanya berkata. “Apaan sih!!, udahlah, jangan ganggu aku”. Tidak heran jika teman-teman perempuan ku banyak yang mengidolakan Agung, kata mereka “Aku Fanznya Agung”. Itu semua tidak membuat Agung besar kepala, malah semua itu di anggap hal yang wajar-wajar saja.

Agung itu termasuk anak yang lugu. Tidak jarang teman-teman sering membahas Agung di dalam obrolan mereka. Tidak tanggung-tanggung, sangat ngefanznya teman-teman ku, mereka sering mencuri-curi kesempatan untuk mengambil foto Agung dengan ponsel mereka. Sungguh, sangat berlebihan untuk anak di kalangan SMP. Namun, begitulah tingkah konyol teman-teman, ya.. bisa di bilang aku pun begitu… ^_^!!!. Walau kelemahan Agung ada di fisiknya yang mungil, namun kelebihannya pun berada di sana.

Agung memiliki kemampuan menggiring bola basket dengan lincah, tembakannya pun jitu… Sungguh itu menyadarkan, di mana ada kekurangan pasti di situ ada kelebihan. Cahya Yuda Kurniawan, panggil saja Yuda. Dia salah satu teman yang paling akrab dengan Agung. Dia tidak ada habis-habisnya untuk mencoba membuat Agung jengkel. Setiap harinya, Yuda dan Lingga selalu duduk di belakang Agung dan Rendi. Aku yang melihat dengan mata kepala ku sendiri, kaki Yuda naik lewat belakang kursi Agung, dan mengotori tas Agung dengan alas sepatu Yuda. Sungguh Agung pun menyadari, Agung melihat tasnya, benar-benar sangat kotor, itu semua pekerjaan Yuda.

Namun apa yang Agung lakukan???. Agung hanya mengambil tasnya, membersihkan tasnya dari tebu dan kotoran yang berasal dari alas sepatu Yuda, seraya berkata.”Ini bukan masalah besar!!!”. Lalu memasukan tas nya ke dalam loker meja. Pernah juga aku melihat Lingga menjahili Agung. Saat pelajaran B.inggris, ketika di perintahkan untuk mengerjakan tugas, Lingga dan Yuda Menyembunyikan buku cetak milik Agung ke dalam loker meja teman perempuan ku. Q melihat rona wajah Agung, terlihat jika dia telah menyadari bahwa buku itu di sembunyikan oleh Lingga dan Yuda.

Agung hanya terdiam membisu, seraya menarik buku Rendi teman sebangkunya ke tengah-tengah meja untuk melanjutkan mengerjakan. Sungguh, sudah jarang anak seperti Agung. Dia membuat setiap orang yang melihatnya selalu terkagum-kagum. Bukan hanya dari fisik, namun hati kepribadian, dan perilakunya.
Seandainya, semua anak Zpenzaka seperti Priagung Putra Satria ini, mungkin semua terasa lebih baik!!!

By:Ujianti Dwi Kinasih

No related posts.

Leave a Reply